Langsung ke konten utama

Gratefully grateful?

I was on the way office this morning by a bus standing in front of occupied passenger seat, enjoying my shuffling playlist, scrolling twitter timelines. One of my favorite 30 minutes of a day. I read one of my favorite Indonesian author tweets while I realize this: that each of us never know enough unless He allow us to know.

Meaning: we actually don't know anything, if only we'd mind to realize that He provide us ears to listen, eyes to see, tongue to talk, and heart to feel what's happening around. By all that senses working well, we can manage to know everything.

Gratefully grateful?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pathetic Saturday : under the state of Randomness.

Have u felt like it’s really really boring until you didn't even know what to do? Like what you’re trying to do to kill that boredom did nothing at the end and you can switch activities once in a while instantly, like you did so much randomness in a very short of time? It does happen to me this time. And it happened to one of my friend at office yesterday, when the working hour just got off. For me the feeling of this boredom can lead me to any of random things. I woke up to the fact that I missed doing my prayer on time so I forced my body to move and did my obligation. After it done, i don't know what would I do in this whole day, and when such feeling hit me, it feels like shit. It’s actually rain that screw all of the plans. I've planned to go at some place looking for a proper baby stroller (with a proper price of course) as a present for my friend’s new born baby girl, and will maybe end up home with a pair of wedges or liberated feeling after bought some goo...

2

“siapa?” message sent. Seusai membereskan meja dan isi tas cangklongku, aku meneguk setengah gelas terakhir air putih diatas meja, sambil menunggu balasan pesan, aku membuka-buka laman twitter. Nomor tidak dikenal itu t iba-tiba menelepon. Lantunan “youre beautiful” dari James Blunt terdengar hingga refrain, aku enggan mengangkat telepon. Dalam beberapa detik itu aku benci memi k irkan bahwa ketika seseorang tiba-tiba meminta maaf atas kesalahan yang terjadi 2 tahun yang lalu, sudah tentu bahwa luka lama sedang mencoba untuk dibuka kembali. Aku benci mengingat-ingat masa lalu. Why don't you came into my life again just as a stranger?  A complete stranger instead of came in, asking for apology about what have passed? Damn.

Membangun Perasaan Syukur.

Suatu kali aku merasa sangat tertekan dengan keadaan di kantor, sekilas tampak dari luar, unit kerjaku menyenangkan, obrolan-obrolanku kepada teman-teman tentang seneng-senengnya bekerja dengan rekan kerja yang masih pada muda-muda itu lebih banyak sebagai kamuflase jadinya, padahal aku bercerita tentang yang sebenarnya hanya kepada sebagian orang yang aku percaya. Suatu kali itu, aku bilang kepada seorang teman dekat, bagaimana inginnya aku ‘kabur’ dari realita kerjaan dengan boss yang demanding itu, bagaimana bobroknya institusi ini padahal aku pun makan dari penerimaan gaji disini, dan banyak hal lain dari segala pikiran negative yang bermunculan seketika. Malam itu aku pulang kerja dan merasa sangat lelah sekali. Begitu jelas bagaimana pikiran-pikiran negative melumpuhkan syaraf-syaraf positif dalam diri, lahir maupun batin. Tulisan ini bukan tentang curhatan (ngarepnya), tapi mungkin akan berguna sebagai self reminder. Seketika setelah aku mengeluh dengan segala keluha...